[🌸] Ah, sial.

Mati gue.

Belum juga Isagi puas menghirup napas akibat berlari kencang untuk sampai ke gerbang, napasnya kini dibuat kembali terhenti sesaat ketika ia melihat sosok maha rupawan yang juga baru tiba bersamaan dengannya.

Siapa lagi kalau bukan Itoshi Rin, yang ketampanannya seakan bisa membuat daun-daun yang muncul terbawa angin di sekelilingnya seolah ikut menyambut kedatangan pemilik iris seindah hijau laut tersebut.

Padahal semalam baru saja Isagi meminta doa untuk bisa move on secepatnya dari Rin. Tapi mengapa pagi ini ia sudah kembali bertemu dengan si pujaan hati dengan keadaan sama telatnya untuk masuk sekolah?

Apa lagi jika mengingat kelakuan bodohnya ketika mengibarkan bendera perang kemarin. Bertemu dengan si tampan secepat ini sama sekali tidak ada dalam bayangannya.

Duh, pokoknya jangan sampe dia ngeliat gue sebelum gue bisa kabur dari sini!

Isagi berusaha untuk menepi ke bagian yang dikerumuni murid telat lainnya, tapi ucapan Pak Loki sang guru BK ini hanya membuat Isagi justru mengumpat sebal.

“Yang kelas 10 buat barisan sebelah kiri, kelas 11 di tengah, dan kelas 12 sebelah kanan.”

Berengseekkk!!! Malah makin ketahuan!

Akibatnya sudah pasti Isagi akan terlihat oleh Rin dan mau tak mau mereka berdiri berdekatan dikarenakan murid kelas 10 yang telat kali ini hanya mereka berdua saja.

Detik kemudian jantung Isagi kian berdegup kencang begitu mereka membuat barisan dan tanpa sengaja menjadikannya berdiri tepat di depan Rin.

“Telat juga?”

Lalu suara rendah yang sungguh menggetarkan hati tiba-tiba ikut terdengar dari belakang hingga Isagi langsung terkesiap dibuatnya.

Apakah berarti Rin memang sudah menotis kehadirannya dan Isagi benar-benar sudah masuk ke dalam ingatan Rin?

Kalau memang benar adanya, maka Isagi tidak boleh melewatkan kesempatan tersebut dan harus tetap pada perannya yang berpura-pura.

“Ma-masalah?”

“Engga. Kirain kalau orang kecil dan kakinya pendek ini bisa lari lebih cepet supaya gak telat masuk.”

Isagi tahu Rin sedang mengejeknya, tapi sungguh itu malah membuat Isagi senang dengan fakta bahwa Rin mengingat ucapannya kemarin. Bahkan kini pipinya sudah memerah dan beruntung pemuda tinggi itu tak dapat melihatnya.

“Daripada lo, anak berprestasi segambreng tapi masih telat juga.”

“Gapapa kalau ternyata jadi bisa lihat orang kecil telat juga.”

Astagaaaaa.

Ingin rasanya Isagi berloncat ke sana ke mari hanya untuk menonjoki siapapun yang ada di hadapannya setelah mendengar ucapan Rin barusan yang membuatnya sungguh salah tingkah.

Apa gue juga pura-pura pingsan aja sekalian biar digendong Rin dan berakhir kita ciuman hebat di UKS?

“Gak jelas.”

Tapi sayang itu semua hanya dalam khayalannya belaka karena Isagi sudah membuang jauh harapan ia bisa pendekatan dengan Rin secara normal.

“Kali ini hukumannya lari 5 putaran,” ujar Loki kembali yang kemudian membuat Isagi mendengus remeh.

“Kecil gini, walau belum sarapan pun gue juga kuat kalau disuruh lari 5 putaran doang.”

“Oh? Semangat kalau gitu.”

Isagi tersenyum bangga atas rasa percaya dirinya, tapi lagi-lagi begitu mendengar ucapan Pak Loki selanjutnya, senyuman tersebut juga pupus dalam seketika.

“Tapi khusus untuk yang beratribut lengkap, langsung boleh masuk ke kelas.”

Isagi menggerutu dalam diam karena ia sangat sadar bahwa ia tidak memakai dasi, apa lagi membawa topi sebab ini bukan hari Senin. Ia pun ikut melirik sekilas ke arah Rin yang sejak tadi beratribut lengkap mulai dari topi, dasi, hingga ke gesper.

Sudah pasti Rin akan semakin mengejeknya dan dengan senang hati melangkah lebih dulu untuk meninggalkannya.

Isagi pun hanya bisa pasrah dan kembali berdiri tegap menghadap ke depan, menerima nasib buruknya yang kian terus disempurnakan.

Pluk!

Namun, suatu benda tiba-tiba dipakaikan di atas kepala Isagi yang juga langsung menutupi setengah pandangannya. Begitu sadar bahwa itu adalah topi, Isagi reflek menghadap ke belakang karena Rin itulah yang baru saja melakukannya.

“Lo aja yang pakai.” ujarnya.

“Haa? Padahal lo bisa masuk kalau pakai topi lo ini?!”

Isagi menatap Rin tidak percaya, sementara yang ditatap justru memberikannya senyuman samar.

“Mau lihat orang kecil yang katanya juga bisa lari 5 putaran tanpa sarapan itu.”

Ah. Sial.

Suara Pak Loki yang kemudian menyuruh mereka untuk mulai berlari, kini mulai ikut terdengar samar di telinga Isagi. Bahkan langkah kaki yang membawanya ke lapangan juga terasa ringan layaknya ia tengah berlari di atas awan.

Isagi diam seribu bahasa, ia hanya bisa berlari di belakang Rin, menghirup wangi khas yang mengiringi setiap langkahnya, sambil menatap punggungnya yang terbentuk sempurna layaknya mahakarya sang pemahat nomor satu dunia.

Dalam diamnya pun Isagi kembali berpikir, apakah Rin memang sengaja memberikannya topi memang hanya untuk mengejeknya atas perbuatan menyebalkannya di kantin kemarin?

Atau ... Rin memang hanya tidak ingin melihat Isagi berlari sendirian dan memilih untuk menemaninya?

Apakah sebenarnya Rin itu tipe yang baik pada semua orang dan sengaja membuat Isagi tidak kembali menemukan celah untuk tidak jatuh cinta padanya?

Ah. Benar-benar sial.

Topi milik Rin yang ia kenakan pun semakin Isagi tundukkan, guna menyembunyikan wajahnya yang entah memerah karena berlari dan terik matahari, atau karena perasaannya pada Rin yang semakin menguasai diri. Isagi sudah tidak peduli.

Begitu lima putaran selesai, semua murid yang sudah berlari diperbolehkan untuk segera masuk ke kelas masing-masing. Termasuk pula Isagi dan Rin yang kini sudah terengah-engah di depan pendopo sekolah.

“Ternyata benar, hah ... lo kuat juga.”

Mendengar suara Rin lagi, rasanya Isagi masih ingin berlama-lama bersama Rin kembali, tapi jika diteruskan jantungnya mungkin bisa langsung meledak dan Isagi lebih tidak mau hal itu terjadi.

“Yang lemah itu lo, bukan gue.”

Jadi pemuda bersurai biru gelap itu pun memilih untuk langsung membalas ucapannya dengan kikuk, sebelum akhirnya dengan cepat juga mengembalikan topi itu kepada pemiliknya.

“Ja-jangan lupa minum. Siswa berprestasi sok keren.”

Kemudian setelah mengucapkan itu Isagi segera berlari meninggalkan Rin yang kini dibuat tertegun di tempat dengan topi di tangannya.

Lalu tak jauh dari sana ada Reo yang juga baru muncul dari ruang guru. Melihat Rin berdiri mematung sendirian di saja, membuat ia berjalan mendekati temannya itu dengan wajah yang ikut bingung.

“Lah, Rin? Atribut lo lengkap, tapi kok malah tetap lari?”

Suara Reo yang terdengar pun segera menyadarkan Rin dari lamunannya, ia menatap sekilas pemuda berambut ungu itu lalu kembali pada topi yang sejak tadi ia pegang.

Tatapan Rin melembut, ia pun tersenyum tipis sebelum menjawabnya.

“Gapapa, mau olahraga pagi dikit aja.”

Sementara Isagi yang sebenarnya masih memerhatikan Rin dalam sembunyi, hanya mampu kembali tersentuh begitu mendengar jawaban Rin yang ternyata tidak sama sekali mengejeknya seperti sejak tadi. Sebaliknya justru ia menyembunyikan alasan sebenarnya dari orang lain—menjadikan hal barusan sebagai rahasia kecil untuk dirinya dan Isagi.

“Kalau lo kayak gini ... Gimana gue gak semakin naksir juga sama lo, Rin?”

Karena bukannya berusaha menyelamatkan diri. Isagi justru jatuh lebih dalam lagi tanpa berniat untuk mencari celah keluar dari cinta ini.

Isagi ingin selalu berada di dekat Rin. Isagi ingin mengetahui banyak hal tentang Rin. Isagi ingin mengenal lebih jauh siapa itu Rin. Isagi ingin terus bersama Rin.

Isagi juga ingin terus menyukai Rin. []

© 2026, roketmu.